Wednesday, August 11, 2010

Dua Pekerja Galian C Tertimbun Pasir, Satu Orang Tewas



Cirebon - Dua pekerja di lokasi galian C (pasir) di Desa Cipeujeuh Kulon, Kec. Cipeujeuh, Kab. Cirebon, masing-masing Iman Suansa (28) dan Agus Sutarno (21), warga RT 05 RW 04 Desa Cipeujeuh Kulon tertimbun tanah saat beristirahat melakukan reklamasi di bekas galian tersebut. Akibatnya, Iman tewas seketika, sementara Agus yang dalam kondisi kritis dilarikan ke RS Ciremai Kota Cirebon. Hingga Selasa (10/8) malam masih mendapatkan perawatan intensif di RS tersebut.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, musibah yang menimbulkan korban jiwa tersebut berawal ketika korban Iman bersama rekannya, Agus yang pada Senin (9/8) tengah beristirahat dekat tanah dan pasir yang menggunung untuk mereklamasi bekas galian C yang dikelola H. Sa'I'm, sementara para pekerja lain pun sedang beristirahat, namun tidak di sekitar tanah yang menggunung.

Gundukan tanah berkubik-kubik itu tiba-tiba bergerak cepat dan menimbun kedua korban. Tertimbunnya korban tidak langsung diketahui, namun ada salah seorang pekerja yang ingat kalau korban beristirahat dekat gundukan tanah tersebut dan jaraknya sekitar 30 meter dari eskavator yang saat itu di bawah pengawasan Danu (52) staf CV. Caringin Alam Sejahtera, yang diberi izin tambang oleh Pemkab Cirebon.

Dengan menggunakan eskavator dibantu tenaga manual para pekerja, kedua korban berhasil ditemukan. Iman ditemukan sudah tak bernyawa lagi sementara Agus yang kritis langsung dibawa ke RS Ciremai untuk mendapatkan penanganan medis. Namun, karena keluarga korban Iman penasaran, Agus yang sudah tewas itu pun turut dibawa ke RS.

Sementara itu, Kapolres Cirebon, AKBP Edi Mardianto melalu Kapolsek Lemahabang AKP Fahturoji, membenarkan adanya seorang pekerja galian C yang ditemukan tewas terkubur.

Petugas telah melakukan olah TKP dan memeriksa saksi-saksi yang saat itu berada di lapangan. "Sementara ini penyebab kematian korban karena kecelakaan. Korban luka kini dirawat di RST Ciremai," Fahturoji.

Fahturoji meminta mereka yang bekerja di lokasi galian C untuk lebih mengutamakan keselamatan dan kesehatan kerja. Hal itu penting agar dapat terhindar dari kecelakaan yang dapat menimbulkan luka atau korban jiwa. (sumber)

Tuesday, August 10, 2010

Penjual VCD Porno Diamankan Polres Cirebon



Cirebon - Menjelang Ramadhan jajaran Kepolisian Resor (Polres) Cirebon mengintensivkan perasi penyakit masyarakat (pekat), salah satunya menyita puluhan keping VCD porno dari sejumlah pengecer barang haram tersebut.

Informasi yang dihimpun Senin (9/8) menyebutkan, VCD porno tersebut di antaranya disita dari tangan LA alias Carli (30) warga Desa Randegan Wetan, Kec. Jatitujuh, Kab. Majalengka dan Maj (36) asal Desa Palimanan Barat, Kec. Gempol, Kab. Cirebon yang biasa mangkal di wilayah Gempol. Selain mengamankan kedua tersangka, petugas juga menyita sebanyak 100 keping VCD.

Pengungkapan tersebut berawal dari infomrasi yang diterima dari masyarakat, jika daerah Gempol ada yang suka menjual VCD Porno. Selanjutnya petugas melakukan penggerebegan di lokasi tersebut. Benar saja, selain terdapat ribuan keping VCD lainnya, terdapat 100 keping VCD mesum.

Wakil Kepala Kepolisian Resor (Wakapolres) Cirebon, Komisaris Subiantoro ketika dikonfirmasi membenarkan adanya penyitaan VCD mesum tersebut. "Pada waktu digeledah ditemukan VCD porno sekitar 20 keping di dalam salon tape milik tersangka Maj,” kata Wakapolres melalui Kasatreskrim Ajun Komisaris Johanson Sianturi.

Setelah dilakukan pengembangan, diketahui VCD tersebut berasal dari rekannya Cal asal Desa Randegan Wetan, Majalengka. Berikutnya, petugas melakukan pengejaran atas Car. Selain mengamankan tersangka Car, petugas juga berhasil menyita sebanyak 50 keping VCD mesum.

Karena perbuatannya, Car dan Maj bisa diancam dengan pasal 29 UU Ri Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi, karena keduanya telah terbukti memperjual belikan dan menyediakan VCD mesum.

Sejarah Cirebon



Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan terasi.

Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati. Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daer5ah lain yang bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.

Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara.

Setelah Ki Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.

Kemudian Cakrabumi memproklamasikan kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan mamakai gelar Cakrabuana. Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan dengan kerajaan Hindu Pajajaran.

Semenjak itu pelabuhan kecil Muara Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman, menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini.

Pangeran Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon.(mengenal kasultanan kasepuhan cirebon)

Sunday, August 8, 2010

Cirebon Tuan Rumah Festival Topeng Nusantara



Cirebon - Festival Topeng Nusantara (FTN) untuk pertama kali memilih Kota Cirebon sebagai tuan rumah pada 15-17 Oktober mendatang.

Dalam kegiatan itu diagendakan Semarak Pemilihan Duta Topeng Cirebon untuk memilih satu sanggar tari dari Ciayumajakuning untuk mengikuti Pentas Tari Topeng pada puncak kegiatan FTN.

Bertempat di Griya Ciayumajakuning Jalan Siliwangi Kota Cirebon, Semarak Pemilihan Duta Topeng Cirebon diikuti oleh 18 sanggar tari se-wilayah III Cirebon yang meliputi Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning).

Hadir sejumlah budayawan dalam kegiatan ini diantaranya Endo Suwanda, seorang pakar seni topeng dipilih sebagai juri yang didukung empat anggota Dewan Pertimbangan yaitu Toto Amsar, Pangeran Panji Jaya Prawirakusuma dari Keraton Kasepuhan, Pangeran Agus Djoni dari Keraton Kanoman dan seorang tokoh budayawan Cirebon, Dadang.

Peggy Melati Sukma selaku koordinator pelaksana program dan jubir festival di Cirebon, Sabtu (7/8), mengatakan, kegiatan yang diproyeksikan sebagai peristiwa budaya dan pariwisata ini rencananya akan digelar rutin setiap dua tahun sekali.

"Tujuannya untuk melestarikan dan mempublikasikan seni budaya topeng nusantara serta diharapkan mendapat pengakuan sebagai warisan budaya bangsa dari UNESCO seperti batik dan keris," kata Peggy.

Selain menampilkan seni tari topeng, dalam rangkaian kegiatan FTN ini juga dimeriahkan dengan bazar kuliner dan kerajinan tangan yang menurut Peggy sebagai dukungan untuk industri kreatif sehingga meningkatkan ekonomi rakyat.

Rangkaian kegiatan FTN selanjutnya, kata Peggy adalah "Public Showcase" di alun-alun Grand Indonesia, Jakarta pada tanggal 13-22 Agustus 2010 mendatang. Di acara tersebut, katanya merupakan eksibisi yang menampilkan karya topeng dari seniman muda, creative group, selebritis dan institusi budaya dari berbagai daerah terpilih.

"Acara tersebut digelar bertujuan untuk mencari dukungan dan membantu menyampaikan pesan untuk melestarikan budaya melalui karya mereka sekaligus mempromosikan rangkaian acara FTN 2010 di Cirebon ini," ujar Peggy.

Dilanjut dengan rangkaian kegiatan FTN ketiga adalah menampilkan "10.000 topeng kreatif buatanku" di bulan September yang melibatkan anak-anak dan keluarga didampingi para seniman topeng.

"Diharapkan kegiatan ini dapat membukukan rekor MURI," ujarnya.

Puncak acara FTN pada tanggal 15-17 Oktober adalah Kirab Budaya Ciayumajakuning" yang akan digelar di sepanjang jalan protokol Kota Cirebon dan diikuti oleh 1.000 peserta terdiri dari berbagai seni tradisi dari Ciayumajakuning dan seluruh Nusantara.

"Nanti akan ada kirab 1.000 seniman dari Ciayumajakuning dan seluruh Nusantara berangkat dari Griya Ciayumajakuning dan berakhir di Gedung Negara kantor BKPP. Di sana juga terdapat seremoni peluncuran Kirab Budaya Ciayumajakuning, upacara pembukaan FTN, festival kuliner dan festival kerajinan kreatif," katanya.

Khusus bagi wisatawan domestik dan internasional, pada tanggal 16 Oktober akan dilanjutkan dengan Festival Topeng Nusantara Show di Resort Prima Sangkanhurip, Kuningan sebagai kemasan paket wisata. Yaitu sebuah acara gala pertunjukan dan makan malam yang dikemas dengan eksklusif berupa pagelaran spektakuler dari koreografi, stage act, musik dan multimedia.

Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) wilayah Cirebon, Ano Sutrisno menyambut baik kegiatan yang baru pertama kali diadakan Indonesia tersebut apalagi Cirebon terpilih sebagai tuan rumahnya.

"Saya haturkan terima kasih atas kesempatan Cirebon terpilih sebagai tuan rumah FTN dan diharapkan potensi-potensi daerah di Ciayumajakuning dapat terekspose ke luar dan dapat berkembang," katanya. (sumber)
 
Cirebon Post.Com Copyright © 2010